SELAMAT DATANG JULAK AE....

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum wr, wb.

Selamat datang di blog ini. Blog ini berisi tentang materi pelajaran Bahasa Indonesia yang disediakan untuk para siswa SMA (umumnya) dan khususnya siswa SMA Negeri 1 Simpang Empat kelas X.

Mudah-mudahan dengan blog ini, para siswa dapat lebih semangat dalam mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia.

Di dalam blog ini bukan hanya sekedar menyediakan materi pelajaran, tetapi juga menyediakalaan galery foto, tempat untuk berkomentar atau curhat khususnya bagi siswa SMAN 1 Simpang Empat.

Semoga blog ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amien

Wassalam


My Inspirator

Sabtu, 14 Agustus 2010

Sebuah Analisis Cerpen "Persahabatan Sunyi" Karangan Harris Effendi Thahar

Pada pukul 15.00 WIB saya disuruh menganalisis cerpen yang berjudul "Persahabatan Sunyi" karangan Harris Effendi Thahar. Cerpen ini sangat bagus sekali, beberapa hikmah dapat kita ambil dari isi cerpen tersebut. Cerita ini berkisah seputar seorang lelaki separuh umur dan seorang bocah perempuan ingusan yang menjalani kerasnya kehidupan kota Jakarta.

Sebenarnya, tulisan ini adalah tugas yang diberikan oleh Ibu Elina Syarif, selaku Widyaiswara di PPPPTK Bahasa. Kebetullan hari ini pada pukul 14.00 WIB tadi materi tentang sastra, maka kami disuruh menganalisis. Semoga saja dengan apa yang saya analisis pada cerpen ini bermanfaat bagi kita semua. dan jika ada yang tidak sependapat dengan saya, tolong berikan saran dan kritikan yang sifatnya membangun dari jamaah fesbukiyah sekalian....

....................................................................................
Analisis Cerpen yang Berjudul Persahabatan Sunyi karya Harris Effendi Thahar

Sinopsis Cerpen Persahabatan Sunyi
Lelaki setengah umur yang kelihatan cukup sehat itu akan “tutup praktik” ketika matahari mulai tergelincir ke Barat. Ditemani oleh seekor anjing betina kurus, ia turun dengan langkah pasti menuju lekukan sungai hitam di pinggir jalan, mendapatkan gerobak dorong kecil beroda besi seukuran asbak. Dari dalam gerobak yang penuh dengan buntelan dan tas-tas berwarna seragam dengan dekil tubuhnya.
Lelaki itu lewat begitu saja mendorong gerobak bermuatan anjing dan buntelan-buntelan kumal miliknya sambil mencari puntung-puntung rokok yang masih berapi di pinggir jalan. Tiba-tiba saja ada seorang bocah perempuan ingusan yang memegang krincingan dari tutup botol munuman melempari anjing itu. Lelaki itu berkacak pinggang, menatap bocah perempuan itu dengan tajam. Bocah perempuan itu balas menantang sambil berkacak pinggang. Dan lelaki itu akhirnya meninggalkan tempat itu dengan mendorong kembali gerobak kecilnya. Namun, bocah perempuan dengan kerincingan itu mengikutinya dari belakang dengan jarak sepuluh meteran.
Malam telah larut. Bocah perempuan ingusan itu terbirit-birit dikejar gerimis yang mulai menghajarnya. Rambutnya yang nyaris gimbal itu kini melekat lurus-lurus di kulit kepalanya yang disiram gerimis. Bocah itu mengeluarkan lilin dan korek api dari dalam kantong plastik. Berkali-kali menggoreskan korek api, padam lagi oleh tiupan angin yang bertempias. Lalu ia mendekat ke arah lelaki itu agar terlindung oleh angina dan berhasil menyalakan lilin. Bocah itu melihat ujung lipatan kardus tersembul dari dalam gerobak kecil di atas kepala lelaki setangah umur itu. Ia berusaha menariknya keluar tanpa menimbulkan suara berisik dan membangunkan lelaki itu.setelah berhasil, ia membaringkan dirinya yang setengah menggigil karena pakaiannya basah. Merapat pada tubuh lelaki yang memunggunginya itu sekedar mendapatkan imbasan panas dari tubuh lelaki itu.
Deru mesin mobil yang melintas jembatan beton di atas mereka justru menimbulkan rasa tenteram, rasa hidup di sebuahn kota yang sibuk. Lelaki setengah umur itu juga sedang bermimpi tidur dengan seorang perempuan. Ketika ia membalikkan badannya, ia menangkap erat-erat tubuh bocah yang setengah basah itu dan melanjutkan mimpinya.
Sebelum subuh, pasukan tramtib itu dating lagi, lengkap dengan polisi dan beberapa truk mengangkut gelandangan. Mimpi lelaki itu tersangkut bersama gerobaknya di atas bak truk. Begitu juga bocah perempuan itu.
Rawamangun, 3 Oktober 2004


Unsur Intrinsik Cerpen Persahabatan Sunyi
1. Tema
Tema pada cerpen tersebut adalah tentang perjuangan hidup.

2. Latar dan alur
Latar cerita di dalam cerpen itu adalah Kota Jakarta. Cerita tersebut menggunakan alur maju.

3. Tokoh
Tokoh di dalam cerita itu adalah Lelaki setengah umur dan Bocah perempuan

4. Karakter lelaki setengah umur
Penyayang:
Pembuktian dari tokoh lelaki setengah umur ini penyayang adalah pada kutipan cerita sebagai berikut:
"….Lelaki setengah umur itu mengambil sebuah piring plastik dari dalam buntelan lalu memberi makan yang didapatnya dari rumah makan tadi. Keduanya makan dengan lahap tanpa menoleh kanan kiri."

Dari kutipan cerita di atas didapatkan bahwa si Lelaki setengah umur itu memiliki sifat penyayang terhadap bocah perempuan kecil yang membawa kerincingan dari tutup botol minuman itu walaupun mereka tidak saling mengenal. Dengan rela ia berbagi makanan dengan gadis itu agar mereka berdua tidak kelaparan.
Pembuktian sifat penyayang lainnya yang dimiliki oleh lelaki itu adalah sebagai berikut:
"…. Deru mesin mobil yang melintas jembatan beton di atas mereka justru menimbulkan rasa tenteram, rasa hidup di sebuahn kota yang sibuk. Lelaki setengah umur itu juga sedang bermimpi tidur dengan seorang perempuan. Ketika ia membalikkan badannya, ia menangkap erat-erat tubuh bocah yang setengah basah itu dan melanjutkan mimpinya."

Dari kutipan cerita di atas didapatkan pembuktian bahwa si tokoh (lelaki setengah umur) itu memang benar-benar penyayang. Dia berusaha menghangatkan bocah perempuan yang kedinginan tidur dengan cara mendekapnya, agar si bocah perempuan itu merasa hangat.

5. Karakter Bocah Perempuan
Karakter Bocah Perempuan itu adalah pemberani, hal ini terdapat pada kutipan berikut:
"…Seorang bocah perempuan ingusan yang memegang kerincingan dari kumpulan tutup botol minuman telah melempari anjing itu. Lelaki itu berkacak pinggang enatap bocah perempuan itu dengan tajam. Bocah perempuan itu balas menantang sambil berkacak pinggang."

6. Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan penulis pada cerpen tersebut menggunakan sudut pandang orang ketiga.

7. Amanat
Amanat yang disampaikan oleh penulis dalam cerpen itu adalah:
a. jangan pantang menyerah dalam menjalani hidup dan mensyukuri atas karunia yang diberikan Tuhan kepadanya.
b. berikanlah kasih sayang kepada makhluk hidup.


Unsur ekstrinsik
Unsur ekstrinsik yang terdapat pada cerpen itu adalah adanya nilai sosial, yakni:
1. Di dalam cerpen itu digambarkan bahwa tokoh mau berbagi tempat tidur dengan bocah perembuan yang selalu mengikutinya.
"….. Bocah itu melihat ujung lipatan kardus tersebut dari dalam gerobak kecil di atas kepala lelaki setengah umur itu. Ia berusaha menariknya keluar tanpa menimbulkan suara berisik dan membangunkan lelaki itu. Setalah berhasil, ia membaringkan dirinya yang setengah menggigil karena pakaiannya basah. Merapat pada tubuh lelaki yang memunggunginya itu, sekedar mendapatkan imbasan panas dari tubuh lelaki itu."

2. Adanya perjuangan hidup yang digambarkan di dalam cerpen itu, yakni:
a. Perjuangan hidup Lelaki setengah umur dengan cara memulung dan mencari sisa-sisa makanan di restoran.
b. Perjuangan hidup Bocah perempuan mencari makan dengan cara mengamen dan ia terus mengikuti si Lelaki setengah umur dari belakang untuk mengharap belas kasih dan perlindungan.



Jakarta; PPPPTK Bahasa, 3 Agustus 2010

Read More......

Sebuah Analisis Cerpen "Persahabatan Sunyi" Karangan Harris Effendi Thahar

Pada pukul 15.00 WIB saya disuruh menganalisis cerpen yang berjudul "Persahabatan Sunyi" karangan Harris Effendi Thahar. Cerpen ini sangat bagus sekali, beberapa hikmah dapat kita ambil dari isi cerpen tersebut. Cerita ini berkisah seputar seorang lelaki separuh umur dan seorang bocah perempuan ingusan yang menjalani kerasnya kehidupan kota Jakarta.

Sebenarnya, tulisan ini adalah tugas yang diberikan oleh Ibu Elina Syarif, selaku Widyaiswara di PPPPTK Bahasa. Kebetullan hari ini pada pukul 14.00 WIB tadi materi tentang sastra, maka kami disuruh menganalisis. Semoga saja dengan apa yang saya analisis pada cerpen ini bermanfaat bagi kita semua. dan jika ada yang tidak sependapat dengan saya, tolong berikan saran dan kritikan yang sifatnya membangun dari jamaah fesbukiyah sekalian....

....................................................................................
Analisis Cerpen yang Berjudul Persahabatan Sunyi karya Harris Effendi Thahar

Sinopsis Cerpen Persahabatan Sunyi
Lelaki setengah umur yang kelihatan cukup sehat itu akan “tutup praktik” ketika matahari mulai tergelincir ke Barat. Ditemani oleh seekor anjing betina kurus, ia turun dengan langkah pasti menuju lekukan sungai hitam di pinggir jalan, mendapatkan gerobak dorong kecil beroda besi seukuran asbak. Dari dalam gerobak yang penuh dengan buntelan dan tas-tas berwarna seragam dengan dekil tubuhnya.
Lelaki itu lewat begitu saja mendorong gerobak bermuatan anjing dan buntelan-buntelan kumal miliknya sambil mencari puntung-puntung rokok yang masih berapi di pinggir jalan. Tiba-tiba saja ada seorang bocah perempuan ingusan yang memegang krincingan dari tutup botol munuman melempari anjing itu. Lelaki itu berkacak pinggang, menatap bocah perempuan itu dengan tajam. Bocah perempuan itu balas menantang sambil berkacak pinggang. Dan lelaki itu akhirnya meninggalkan tempat itu dengan mendorong kembali gerobak kecilnya. Namun, bocah perempuan dengan kerincingan itu mengikutinya dari belakang dengan jarak sepuluh meteran.
Malam telah larut. Bocah perempuan ingusan itu terbirit-birit dikejar gerimis yang mulai menghajarnya. Rambutnya yang nyaris gimbal itu kini melekat lurus-lurus di kulit kepalanya yang disiram gerimis. Bocah itu mengeluarkan lilin dan korek api dari dalam kantong plastik. Berkali-kali menggoreskan korek api, padam lagi oleh tiupan angin yang bertempias. Lalu ia mendekat ke arah lelaki itu agar terlindung oleh angina dan berhasil menyalakan lilin. Bocah itu melihat ujung lipatan kardus tersembul dari dalam gerobak kecil di atas kepala lelaki setangah umur itu. Ia berusaha menariknya keluar tanpa menimbulkan suara berisik dan membangunkan lelaki itu.setelah berhasil, ia membaringkan dirinya yang setengah menggigil karena pakaiannya basah. Merapat pada tubuh lelaki yang memunggunginya itu sekedar mendapatkan imbasan panas dari tubuh lelaki itu.
Deru mesin mobil yang melintas jembatan beton di atas mereka justru menimbulkan rasa tenteram, rasa hidup di sebuahn kota yang sibuk. Lelaki setengah umur itu juga sedang bermimpi tidur dengan seorang perempuan. Ketika ia membalikkan badannya, ia menangkap erat-erat tubuh bocah yang setengah basah itu dan melanjutkan mimpinya.
Sebelum subuh, pasukan tramtib itu dating lagi, lengkap dengan polisi dan beberapa truk mengangkut gelandangan. Mimpi lelaki itu tersangkut bersama gerobaknya di atas bak truk. Begitu juga bocah perempuan itu.
Rawamangun, 3 Oktober 2004


Unsur Intrinsik Cerpen Persahabatan Sunyi
1. Tema
Tema pada cerpen tersebut adalah tentang perjuangan hidup.

2. Latar dan alur
Latar cerita di dalam cerpen itu adalah Kota Jakarta. Cerita tersebut menggunakan alur maju.

3. Tokoh
Tokoh di dalam cerita itu adalah Lelaki setengah umur dan Bocah perempuan

4. Karakter lelaki setengah umur
Penyayang:
Pembuktian dari tokoh lelaki setengah umur ini penyayang adalah pada kutipan cerita sebagai berikut:
"….Lelaki setengah umur itu mengambil sebuah piring plastik dari dalam buntelan lalu memberi makan yang didapatnya dari rumah makan tadi. Keduanya makan dengan lahap tanpa menoleh kanan kiri."

Dari kutipan cerita di atas didapatkan bahwa si Lelaki setengah umur itu memiliki sifat penyayang terhadap bocah perempuan kecil yang membawa kerincingan dari tutup botol minuman itu walaupun mereka tidak saling mengenal. Dengan rela ia berbagi makanan dengan gadis itu agar mereka berdua tidak kelaparan.
Pembuktian sifat penyayang lainnya yang dimiliki oleh lelaki itu adalah sebagai berikut:
"…. Deru mesin mobil yang melintas jembatan beton di atas mereka justru menimbulkan rasa tenteram, rasa hidup di sebuahn kota yang sibuk. Lelaki setengah umur itu juga sedang bermimpi tidur dengan seorang perempuan. Ketika ia membalikkan badannya, ia menangkap erat-erat tubuh bocah yang setengah basah itu dan melanjutkan mimpinya."

Dari kutipan cerita di atas didapatkan pembuktian bahwa si tokoh (lelaki setengah umur) itu memang benar-benar penyayang. Dia berusaha menghangatkan bocah perempuan yang kedinginan tidur dengan cara mendekapnya, agar si bocah perempuan itu merasa hangat.

5. Karakter Bocah Perempuan
Karakter Bocah Perempuan itu adalah pemberani, hal ini terdapat pada kutipan berikut:
"…Seorang bocah perempuan ingusan yang memegang kerincingan dari kumpulan tutup botol minuman telah melempari anjing itu. Lelaki itu berkacak pinggang enatap bocah perempuan itu dengan tajam. Bocah perempuan itu balas menantang sambil berkacak pinggang."

6. Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan penulis pada cerpen tersebut menggunakan sudut pandang orang ketiga.

7. Amanat
Amanat yang disampaikan oleh penulis dalam cerpen itu adalah:
a. jangan pantang menyerah dalam menjalani hidup dan mensyukuri atas karunia yang diberikan Tuhan kepadanya.
b. berikanlah kasih sayang kepada makhluk hidup.


Unsur ekstrinsik
Unsur ekstrinsik yang terdapat pada cerpen itu adalah adanya nilai sosial, yakni:
1. Di dalam cerpen itu digambarkan bahwa tokoh mau berbagi tempat tidur dengan bocah perembuan yang selalu mengikutinya.
"….. Bocah itu melihat ujung lipatan kardus tersebut dari dalam gerobak kecil di atas kepala lelaki setengah umur itu. Ia berusaha menariknya keluar tanpa menimbulkan suara berisik dan membangunkan lelaki itu. Setalah berhasil, ia membaringkan dirinya yang setengah menggigil karena pakaiannya basah. Merapat pada tubuh lelaki yang memunggunginya itu, sekedar mendapatkan imbasan panas dari tubuh lelaki itu."

2. Adanya perjuangan hidup yang digambarkan di dalam cerpen itu, yakni:
a. Perjuangan hidup Lelaki setengah umur dengan cara memulung dan mencari sisa-sisa makanan di restoran.
b. Perjuangan hidup Bocah perempuan mencari makan dengan cara mengamen dan ia terus mengikuti si Lelaki setengah umur dari belakang untuk mengharap belas kasih dan perlindungan.



Jakarta; PPPPTK Bahasa, 3 Agustus 2010

Read More......

Selasa, 05 Januari 2010

Koin Peduli Bakrie

"Koin Peduli Bakrie" ya, itulah judul tulisan yang saya ungkapkan hari ini. Tadi pagi ketika saya mengikuti siaran Editorial di Metro TV, ada hal menarik perhatian saya terhadap diskusi pada acara tersebut. Yakni masalah pajak.

Pada acara tersebut diungkap bagaimana perilaku orang kaya dalam membayar pajak di negara kita ini. Dan tentu saja pembicaraan tersebut sangatlah menarik, apalagi yang menjadi sorotan adalah Bakrie yang merupakan salah seorang pengusaha terkenal dan ternama di Indonesia.

Membayar pajak adalah kewajiban setiap warga negara. Negara akan maju dan kaya jika rakyatnya membayar pajak dengan baik. Yang namanya wajib tentu harus, tidak ada pengecualian. Dari masyarakat bawah hingga masyarakat kelas atas tentu saja wajib membayar pajak menurut aturan yang berlaku dan ini harus benar-benar dijalankan.

Pernahkah kita membayangkan bagaimana jika ada orang kaya raya yang selama hidupnya tidak membayar pajak, sementara kita selaku orang kelas bawah selalu taat dalam mebayar pajak. Inilah yang menjadi topik yang hangat pada acara Editorial tadi pagi. Permasalahannya adalah Bakrie yang merupakan seorang pejabat, seorang pengusaha, seorang konglomerat yang hidupnya dikelilingi oleh harta yang melimpah ruah, kok sampai saat ini belum bayar pajak. Hutang pajak yang dimiliki oleh Bakrie adalah sebesar 2,5 triliyun rupiah. Itu hanya pajak dari tiga perusahaan yang dia miliki. Belum lagi yang lainnya, kalau dikalkulasikan sebesar 10 triliyun rupiah.

Melihat jumlah uang pajak yang ada pada Bakrie di atas tentu saja menjadi pertanyaan, kok masalah itu tidak diungkap ke publik. Mengapa pemerintah hanya diam saja melihat kondisi tersebut. Sementara kita selaku rakyat kelas bawah yang mempunyai kewajiban dan hak yang sama di dalam negara ini kok selalu dikejar-kejar yang namanya pajak. Sebagai contoh, setiap awal bulan pada saat pengambilan gaji bagi PNS atau pegawai swasta lainnya selalu dipotong pajak 15%. Belum lagi ada mendapat tunjangan atau insentif daerah, potong pajak lagi 15%. Kemudian pajak ini dan itu selalu saja mengejar kita setiap bulannya. Sangat berbeda jauh dengan Bakrie, yang selama ini hidup dengan kemewahan, pendapatan setiap bulan dari perusahaan yang ia kelola, kok tidak dikejar yang namanya pajak. Inilah yang membuat ketidakadilan masih berjalan mulus di negara ini.

Kasus pajak yang dibebani oleh Bakrie ini juga sampai saat ini belum dijungkap, sementara kasus Bank Century yang merugikan negara sebesar 6,5 triliyun rupiah dihebohkan. 6,5 triliyun hebohnya dari Sabang hingga Merauke bahkan menjadi tontonan dunia. Tetapi yang 10 triliyun rupiah mengendap di dalam tanah. Adem ayem saja pemerintah melihat keadaan ini. Mengapa ya?

Kemarin masyarakat Indonesia pada ramai mengumpulkan koin untuk solidaritas terhadap Prita. Nah sekarang apakah kita juga perlu mengumpulkan koin untuk orang kaya yang bernama Bakrie ini untuk membantunya membayar pajak. Karena orang yang tidak dapat membayar pajak itu adalah orang miskin. Mungkin kita sebaiknya mengumpulkan koin yang nilainya Rp.50,- agar meringankan beban Bakrie dalam melunasi hutang pajaknya. Ya mudah-mudahan saja kawan-kawan di indonesia ini dalam waktu cepat mendirikan posko yang bernama "Koin Peduli Bakrie."

Ini adalah salah satu contoh dari para pengusaha yang malas membayar pajak. Kalau dikalkulasikan hutang para pengusaha nakal di Indonesia yang belum membayar pajaknya sekitar 45 triliyun rupiah. Uang yang sangat besar yang selama ini ditutup-tutupi oleh pemerintah. Seandainya saja uang tersebut digunakan untuk dana pendidikan atau membantu masyrakat miskin di Indonesia, sudah pasti tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah dan tidak ada lagi masyarakat yang miskin. Dan senadainya juga uang tersebut digunakan untuk perbaikan listrik di negara kita, otomatis tidak ada lagi yang namanya pemadaman bergilir (mati lampu) di mana-mana.

Bagaiaman menurut Sampeyan?

Faisal Anwar; Tanah Bumbu, 5 Januari 2009

Read More......