Si manis berkulit hitam, berhidung mancung, rambut terurai,
Yang kerjanya bersolek sepanjang hari
Dialah si Aluh Gasing
Berlari tujuh seperempat kilometer
Menyusuri deretan sawah,
Melintasi pasar dan bukit
Sambil menangis dia terus berlari
Membawa duka yang perih
Hatinya sakit
Mengingat bualan Sule akan Normalinda
Yang membuatnya cemburu pada awan yang berarak
Pada mentari yang menyinari
Pada bulan yang mengintip di balik rumpun bambu
Pada bukit yang menghijau
Berlari dan terus berlari
Sudah empat puluh tiga menit dua puluh dua detik
Hatinya terguncang
Gempa di dalam diri
Hancur lebur cinta yang selama ini dibangunnya
Dia telah tumbang
Dia telah jatuh
Dia larut dalam alur kehidupan
Terhimpit oleh cadas yang keras
Luka cintanya takkan terobati
Hatinya begitu perih
Meringis dan meringis
Ingin dipanggilnya sang maut
bersamanya menari di alam sana
Pada jurang ia mengadukan cerita
Jakarta; P4TK Bahasa, 2 Juli 2010
Sabtu, 14 Agustus 2010
Sebuah Puisi; Aluh Gasing
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar